Whatsapp
Website Resmi Desa Wombo
Follow social media

Profil Desa

Profil Desa

SEJARAH DESA

1.     SEJARAH SINGKAT DESA

Desa Wombo adalah salah satu Desa yang ada di wilayah Kecamatan Tanantovea. Wombo berasal dari kata Vombo yang berarti “lindungi atau halangi” yang bermula dari penggunaan “Ompa Lauro” atau tikar dari rotan sebagai pelindung atau penghalang saat zaman perang Kerajaan dan perang saat lawan Belanda. Selain itu Wombo disebut juga sebagai tempat persembunyian masyarakat Kerajaan Tawaeli dari kejaran Belanda.

Masyarakat pertama yang menghuni Desa Wombo bernama Yampari, Yamparau, Basi Kolosi dan Basi Kolosa.

Awalnya Desa Wombo merupakan salah satu Dusun dari Kampung Baiya yang sekarang sudah menjadi Kelurahan Baiya, kemudian Desa Wombo secara resmi memekarkan diri pada hari Jumat 27 November 1936 dengan status sebagai Kampung Vombo yang terbagi dalam 3 Dusun yaitu Boya Mpanau, Soyovau, dan Kalonggo (Buku Aminulah Ladjawia, 1986).

2.     SEJARAH PANJANG DESA

Desa Wombo adalah salah satu Desa yang berada di wilayah Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah. Sejak masa Pemerintahan masih menggunakan sistem Kerajaan, diperkirakan sekitar abad 16 atau 17, Desa Wombo hanya merupakan daerah pertanian. Berdasarkan dari berbagai literatur yang ada pada intinya Desa Wombo ini berasal dari kata “Vombo” yang berarti lindungi atau halangi, selain itu beberapa informasi lain mengatakan bahwa “Vombo”  merupakan tempat persembunyian Masyarakat Kerjaan Tawaeli. Status Desa Wombo awalnya adalah kampung Vombo kemudian diantara tahun 1986-1988 menjadi Desa Vombo, lalu sekitar tahun 1991 Desa Vombo berubah penyebutannya menjadi Desa Wombo.[1] Hal ini dikarenakan huruf V dalam fonem Kaili sangat mirip dengan fonem bahasa inggris yakni dibaca tebal layaknya dalam kata Very, Every atau Love. Olehnya untuk penyesuaian penyebutan maka huruf V yang dibaca tebal oleh suku Kaili diganti menjadi W agar mudah diucapkan oleh masyarakat selain suku Kaili.[2] Sehingga hal ini membuat beberapa daerah di Sulawesi Tengah berubah penyebutannya beberapa diantaranya yaitu Maravola menjadi Marawola, Vani menjadi Wani, Tavaili menjadi Tawaeli, Kavatuna menjadi Kawatuna, Vatusampu menjadi Watusampu, termasuk juga Vombo menjadi Wombo.

Berdasarkan catatan atau tulisan yang ditulis oleh mantan Kepala Kampung/Desa Wombo yang keempat yaitu Aminulah Ladjawia dan beberapa penuturan dari masyarakat Desa Wombo bahwa 4 bersaudara yang masing-masing telah berkeluarga sudah menghuni Desa Wombo pada masa-masa kerajaan. Adapun nama-nama dari Kepala Keluarga tersebut yaitu Yampari yang merupakan anak pertama atau anak sulung, Yamparau anak kedua, Basi Tolosi anak ketiga dan Basi Tolosa anak keempat atau anak bungsu dari keempat bersaudara tersebut.[3]

Diceritakan bahwa ada seorang warga atau masyarakat Kerajaan Tavaili yang sedang berburu di hutan bagian utara Kerajaan Tavaili atau lebih tepatnya di hutan kampung Baiya. Pada saat orang tersebut berburu, tiba-tiba ditengah hutan dia bertemu dengan 4 orang laki-laki yang ternyata mereka ini merupakan 4 orang bersaudara yang masing-masing telah berumah tangga dan mereka berkebun di wilayah tersebut. Sepulangnya masyarakat tersebut dari berburu, dia langsung melaporkan tentang keberadaan 4 keluarga tersebut kepada Raja atau Magau Tavaili, mendengar laporan itu Magau Tavaili langsung memerintahkan Tadulako perang kerajaan bersama dengan masyarakat yang berburu itu untuk pergi mendatangi dan memanggil keempat keluarga tersebut untuk menghadap Magau Tavaili. Sesampainya Tadulako perang bersama rombongan di tempat 4 keluarga tersebut, mereka langsung menyampaikan pesan dari kerajaan agar keempat keluarga ini menghadap Magau Tavaili, namun keempat keluarga tersebut tidak bersedia atau belum siap untuk berjumpa dengan Magau Tavaili. Akhirnya kembalilah Tadulako Perang bersama rombongan tadi ke Istana Kerajaan dan melaporkan hasil pertemuan mereka dengan keempat keluarga tadi. Magau Tavaili pun memberikan toleransi atas ketidaksediaan keempat keluarga tersebut untuk datang menghadap Magau Tavaili.[4]

Namun Magau Tavaili terus berusaha agar keempat keluarga tersebut dapat datang ke Istana Kerajaan. Setelah tiga kali usaha persuasif atau tiga kali panggilan dari Magau kepada keempat keluarga tersebut masih tetap tidak dipenuhi maka Magau Tavaili memerintahkan kepada Tadulako Perang untuk menyerang atau menghancurkan keluarga tersebut. Akhirnya Tadulako Perang pun bersiap untuk pergi menyerang keluarga tersebut, ditengah perjalanan para Tadulako Perang tiba-tiba bertemu dengan 4 orang Kepala Keluarga yang akan mereka serang. Lokasi tempat bertemunya mereka di Sou Karavana. Pada pertemuan itu, 4 orang Kepala Keluarga tersebut telah memikul hasil panen yang sangat banyak dari perkebunan mereka, hal ini membuat para Tadulako Perang heran sehingga mereka bertanya tentang hasil panen tersebut hendak akan dibawa kemana dan mengapa. Ternyata 4 orang tersebut akan menghadap Magau Tavaili setelah tiga kali panggilan mereka tidak penuhi, sekaligus mereka juga membawa hasil panen mereka sebagai buah tangan untuk menghadap Magau.[5]

Tadulako Perang yang mendapati kejadian itu, tidak jadi menyerang mereka dan kembali pulang ke Istana Kerajaan serta melaporkan hal tersebut kepada Magau Tawaeli. Magau Tavaili pun memerintahkan kembali Tadulako Perang untuk membawa keempat orang tersebut menghadap Magau. Singkat cerita datanglah Tadulako Perang bersama dengan keempat orang tersebut yang masih membawa hasil panen mereka. Nampaknya Magau Tavaili sedikit kesal terhadap mereka karena tiga kali panggilan menghadap mereka abaikan. Namun keempat orang tersebut menjelaskan bahwa ketidaksediaan mereka menghadap Magau adalah karena mereka belum memilik hasil panen sehingga mereka malu menghadap Magau dengan tangan kosong. Magau pun menanyakan nama dari masing-masing mereka, Anak Pertama dari empat bersaudara tersebut memperkenalkan diri dan juga ketiga adiknya. Mereka Bernama Yampari, Yamparau, Basi Kolosi, dan Basi Kolosa. Mendengar nama-nama itu Magau langsung tercengang karena Magau mengetahui bahwa mereka itu adalah keluarga yang sangat dihormati.[6]

Akhirnya Magau Tavaili mengumungkan kepada seluruh pengawalnya bahwa orang-orang ini adalah bagian dari keluarga kerajaan. Magau Tavaili kemudian memerintahkan pengawalnya beserta Tadulako Perang untuk secara bergantian memikul hasil panen mereka untuk dikembalikan ketempat mereka serta Magau menyampaikan agar mereka segera pulang kembali ke rumah atau kebun mereka dan sekaligus juga Magau Tavaili memerintahkan beberapa masyarakat kerajaan untuk ikut berkebun ditempat mereka.[7] Diperkirakan kejadian ini terjadi pada abad ke 16 atau ke 17 sesuai dengan waktu berubahnya penyebutan Kerajaan Boya Peramba menjadi Kerajaan Tavaili.[8] Mereka inilah cikal bakal dari masyarakat Desa Wombo, Desa Wombo Mpanau, Desa Wombo Kalonggo bahkan ada yang sampai ke Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi Moutong.

Setelah makin banyaknya masyarakat di wilayah ini makin banyak hasil bumi yang diterima oleh Kerajaan Tavaili, karena hal ini membuat Kerajaan Banawa mencoba untuk masuk wilayah tersebut dengan cara memerintahkan Tadulako perangnya bernama Ponava untuk mengganggu, hal ini menimbulkan peperangan antara kedua Kerajaan tersebut, yang sampai membuat Magau Tavaili harus turun tangan dalam perang tersebut, sampai-sampai pihak Kerajaan Tavaili harus membuat perkemahan sebagai benteng untuk melawan Kerajaan Banawa. Perkemahan tersebut dibuat sederhana dengan menjadikan tikar yang terbuat dari rotan sebagai pelindung dari sinar matahari. Keadaan dilindungi atau dihalangi tikar tersebut disebut “Nivombo” hal ini pun menjadi kebiasaan masyarakat untuk menyebut wilayah tersebut sebagai “Vombo”. Pada akhirnya wilayah tersebut tetap menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Tavaili.[9]

Seiring berjalannya waktu wilayah Vombo dibagi kedalam 3 kelompok keluarga yang sebelumnya merupakan empat keluarga yang sudah menetap lebih lama di wilayah tersebut serta orang-orang yang diutus oleh Magau Tavaili untuk berkebun di wilayah itu. Hal ini ditandai dengan penanaman pohon Bodi atau kayu Bodi sejumlah 3 pohon. Batas dengan pohon Bodi pertama disebut “Boya Mpanau” yang berarti tempat turun dari perkemahan waktu perang. Batas dengan pohon Bodi kedua disebut “Soyovau” yang berarti tempat pengelohan kebun dengan terdapat semut busuk yang jatuh dari pohon kayu berbiji seperti kelapa, semut busuk atau semut hitam juga sebagai tanda kesuburan wilayah. Batas dengan pohon Bodi ketiga disebut “Kalonggo” tempat bertani masyarakat dari Kalonggo Nupabomba. Semakin berjalannya waktu makin banyak penghuni dari tempat tersebut, makin banyak juga hasil bumi dari perkebunan mereka.[10]

Tiba masa penjajahan Belanda di Indonesia tepatnya pada tahun 1860an Belanda mulai memasuki Sulawesi Tengah tidak terkecuali wilayah Kerajaan Tavaili juga termasuk bagian dari masuknya Belanda untuk menjajah Indonesia.[11] Wilayah “Vombo” menjadi bagian dari kampung Baiya yang kemudian dibagi menjadi 3 Dusun. Wilayah “Vombo” merupakan wilayah persembunyian yang aman bagi masyarakat Baiya dari penjajahan Belanda yang mana hal ini disimbolkan dengan pintu masuk wilayah “Vombo” tertutup oleh tikar sehingga sulit untuk ditemukan.[12]

Namun seiring berjalannya waktu Belanda akhirnya menemukan juga wilayah “Vombo” tersebut sehingga terjadi peperangan di area Karavana maka masyarakat wilayah “Vombo” menggunakan tikar yang terbuat dari rotan atau disebut Ompa Lauro sebagai pelindung atau penghalang dari senjata Belanda, hal ini juga disebut sebagai “Nivombo” atau “dilindungi atau dihalangi”.[13]

Tepatnya pada tanggal 27 November 1936 kampung Vombo memekarkan diri dari kampung Baiya dengan kepala kampung pertama adalah Mardjuku Jodjokodi[14] namun masih menjadi bagian dari pemerintahan Dewan Adat Kota Patanggota Kerajaan Tavaili[15] dengan sistem Swapraja.[16]

Pada tahun 1954 Kerajaan Tavaili dibubarkan dengan Magau Lamakampali Djaelangkara sebagai Raja terakhir. Wilayahnya yang terdiri dari 2 Distrik digabungkan menjadi Kabupaten Donggala (dibentuk berdasarkan bekas wilayah Kerajaan Tua Pudjananti dan Kerajaan Banawa yang telah diresmikan pada tahun 1952.[17] Seiring dengan hal itu kampung Vombo yang awalnya bagian dari Kerajaan Tavaili kemudian menjadi kampung Vombo Kecamatan Tavaili Kabupaten Donggala dengan sistem pemerintahan Daerah Swatantra[18] lalu berubah lagi ke sistem Pemerintahan Otonomi Daerah.

Seiring dengan perkembangan Kota Palu sebagai ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah dari Kota Administratif Palu menjadi Kota Madya Palu telah berdampak pada perluasan wilayah, sehingga dengan demikian Desa dalam wilayah Kecamatan Tavaili yakni Desa Mamboro sampai Desa Pantoloan, bahkan bersamaan pula ibu Kota Kecamatan Tavaili Bersama Kantor Camatnya terintegrasi pula ke dalam wilayah kerja Pemerintahan Kota Madya Palu sekaligus menjadi ibu Kota Kecamatan Palu Utara. Sejalah dengan perubahan wilayah tersebut tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1994 pusat Pemerintahan Kecamatan Tavaili dipindahkan dan berkedudukan di Desa Labuan sebagai ibu Kota Kecamatan yang meliputi 12 Desa diantaranya termasuk Desa Wombo. Pada tanggal 16 April 2005 Kecamatan Tavaili dikembalikan ke tempatnya semula yang secara otomatis terintegrasi ke Kota Palu dan berganti nama dari Tavaili menjadi Tawaeli, sekaligus juga memekarkan dua kecamatan baru di Kabupaten Donggala yaitu Kecamatan Labuan dan Kecamatan Tanantovea.[19] Saat itu Desa Wombo tergabung dengan Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala.

Pada Tahun 2003 atau 2004 lebih tepatnya pada tanggal 06 Oktober Desa Wombo telah memekarkan Dusun I Mpanau menjadi Desa Wombo Mpanau dan pada Tahun 2007 atau 2008 lebih tepatnya pada tanggal 04 September Desa Wombo kembali memekarkan Dusun III dan IV Kalonggo menjadi Desa Wombo Kalonggo, yang saat itu Desa Wombo dipimpin oleh Kepala Desa Kartan Lamatali.[20]

BATAS-BATAS WILAYAH DESA WOMBO BERDASARKAN KEPUTUSAN BPD DESA WOMBO INDUK NOMOR : 03/BPD-W.W/KP/VII/2005 Tentang Usulan Pemekaran Dusun III dan IV Desa Wombo Induk menjadi Desa Persiapan Wombo Kalonggo yang ditanda tangani oleh Ketua BPD Wombo Induk Alimin Suud beserta Anggota Aminulah Ladjawia, Tamuhardin, S.Pd, Tarmin L, Musrifin T, Djufri Topeko, Mohamad Umli, Tamrin L, dan Ahmad Hitler, S.Pd.

Sebelah Utara : Wilayah dusun II (Wombo Induk), Tumende, Pabuntongo, Vusu, Palesandu, Torialo, Lore, Ueburu, Pangale, (Batas Salu Pangale) Wilayah Dusun III (Wombo Induk), SMPN 3 Tawaeli, Pangale (Batas Binangga Pangale), Bulusaongu, (Kopi Kisman), Kayumanguni, Pabuntongo, (Batas Salu Pabuntongo), Malapiri, Tovombatu, Lepa’a, Ue Gusu, Salunularo, Pantalea Doke, Volopapabasi, Bambamapane. Secara garis besarnya yaitu berbatasan dengan Desa Labuan Kungguma

Sebelah Timur : Binangga Oge menjadi daerah perbatasan, dengan ketentuan Hutan, Pegunungan, Lembah dan dataran tinggi yang berada di sekitar kiri dari Binangga Oge menjadi wilayah Dusun II Desa Wombo Induk. Hutan, Pegunungan, Lembag dan Dataran Tinggi yang berada di sebelah kanan Binangga Oge menjadi wilayah dusun III dan IV Desa Wombo Induk. Secara garis besarnya berbatasan dengan Desa Wombo Kalonggo dan Desa Uwevolo Kec. Siniu Kab. Parigi Moutong.

Sebelah Selatan : Mulai dari Nunu (Talodo), Oru nutalodo, menjadi daerah pembatas, turun ke kebun Konolompe, Taipabaro (sebelah kiri menjadi wilayah dusun III dan IV Desa Wombo Induk), sedangkan (sebelah kanan menjadi wilayah Dusun II Desa Wombo Induk). Secara garis besarnya yaitu berbatasan dengan Kelurahan Lambara dan Kelurahan Baiya Kec. Tawaeli Kota Palu.

Sebelah Barat : Berbatasan dengan jalan pemuda, jalan setapak menuju ke Sungai. Secara garis besarnya berbatasan dengan Kelurahan Pantoloan Boya dan Desa Wombo Mpanau.



[1] Wawancara bersama mantan Sekretaris Adat Desa Wombo, pada tanggal 19 Oktober 2024

[2] Wikipedia, Marawola, Sigi. https://id.wikipedia.org/wiki/Marawola,_Sigi.  diakses pada tanggal 19 Oktober 2024

[3] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[4] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[5] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[6] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[7] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[8] Wikipedia, Kerajaan Tawaeli. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tawaeli. Diakses pada tanggal 9 Maret 2023

[9] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[10] Aminulah Ladjawia. 1986. Buku Kerja. Tulisan Tangan. Tidak Ada Halaman

[11] Wikipedia, Kerajaan Tawaeli. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tawaeli. diakses pada tanggal 9 Maret 2023

[12] Pemerintah Desa Wombo, 2012. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Desa Wombo

[13] Wawancara bersama Ketua Adat Desa Wombo pada tanggal 11 Maret 2023

[14] Mardjuku Jodjokodi merupakan keluarga Kerajaan Dolo dari keturunan Rapalembah (Madika Dolo)

[15] Patanggota Kerajaan Tavaili yaitu Nupabomba, Panau, Lambara dan Baiya

[16] Swapraja adalah wilayah atau daerah yang memiliki hak pemerintahan sendiri

[17] Wikipedia, Kerajaan Tawaeli. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tawaeli. diakses pada tanggal 9 Maret 2023

[18] Daerah Swatantra adalah daerah yang memilik hak mengatur rumah tangganya sendiri

[19] Wikipedia, 2023. Labuan, Donggala. https://id.wikipedia.org/wiki/Labuan,_Donggala. diakses pada tanggal 18 Oktober 2024

[20] Pemerintah Desa Wombo, 2012. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Desa Wombo